Aku memanggilnya Bapak

Aku memanggilnya Bapak. Beliau merupakan satu-satunya laki-laki di keluargaku. Bapak merupakan orang yang paling hebat yang pernah kutemui. Bapak bekerja sebagai guru SD di sebuah sekolah di kabupaten Ngawi. Ketika keluarga kami belum mempunyai rumah sendiri, beliau selalu pulang seminggu sekali bahkan sebulan sekali. Aku pernah protes kepadanya kala itu, akan tetapi kemudian Bapak menjelaskan kalau ini semua dilakukan agar bisa selalu memenuhi kebutuhan keluarga kami. Tapi semenjak kami mempunyai rumah sendiri, aku sudah masuk sekolah TK waktu itu, Bapak pulang pergi Madiun-Ngawi setiap harinya. Aku sungguh kagum terhadap sifat rajin dan tekun yang dimiliki Bapak. Setiap pagi, setelah sholat subuh Bapak berangkat ke sawah. Kemudian kembali ke rumah sekitar pukul 06.30 untuk segera bersiap-siap berangkat mengajar di SD Ngawi. Aku sungguh tak pernah bisa membayangkan betapa lelahnya Bapak setiap harinya harus menempuh perjalanan jauh Madiun-Ngawi. Setelah pulang dari mengajar, Bapak istirahat sebentar untuk kemudian kembali lagi mengurus sawah. Dan kembali ketika matahari terbenam. Aku sangat tahu bahwa Bapak pasti lelah, akan tetapi Bapak tak pernah lupa untuk menemani aku dan adik belajar setiap habis makan malam. Bapak selalu mengajarkan kepada kami untuk selalu bersyukur terhadap apa yang kami miliki. Tidak semua orang bisa merasakan kenikmatan yang sekarang sedang kita miliki. Satu hal yang sampai saat ini selalu kuingat. Bapak adalah sosok yang sangat menyayangi, sangat peduli terhadap keluarganya. Hanya saja Bapak bukanlah orang yang selalu menunjukkan kepeduliannya tersebut. Sejak SMP aku dan adik melanjutkan sekolah di Jombang. Ketika kami pulang Bapak sangat jarang menanyakan hal-hal yang sedang terjadi kepada kami. Tetapi dibelakang itu semua sesungguhnya Bapak lah yang selalu meminta Ibu untuk menelpon setiap minggunya, menanyakan kabar, sudah makan atau belum, uang kiriman kurang atau tidak, di sekolah ada masalah atau tidak. Ya itulah Bapak. Beliau tak pernah membiarkan kami kekurangan dalam hal apapun. Dan bodohnya aku baru mengetahuinya ketika aku di SMA. Dulu aku pernah berpikir bahwa Bapak tak pernah peduli sedikitpun kepadaku. Tapi ternyata aku salah, salah besar.

Sekarang Bapak sudah mendekati pensiun. Rambut Bapak sudah memutih. Tapi Bapak tak kehilangan sifat rajin dan tekunnya. Kesehariannya tetap diisi dengan pergi ke sawah dan mengajar. Setiap liburan menjelang, aku dan adik pasti buru-buru beli tiket kereta dan pulang. Aku tak ingin kehilangan sedikitpun waktu bersama Ibu dan Bapak. Aku tak ingin mendahului takdir, tapi siapa yang tahu kapan ajal menyapa. Dan aku tak ingin menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan.

Mungkin sekarang aku belum bisa membalas semua jerih payah yang telah dilakukan Bapak, tapi aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat Bapak dan Ibu. Terima kasih Tuhan telah memberikanku kedua orang tua yang sangat hebat.

Artikel ini disertakan dalam Semut Pelari Give Away Time, Kenangan paling berkesan dengan papa

6 thoughts on “Aku memanggilnya Bapak

Silahkan komentarnya ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s