ketika kita bertemu dia

Kita tak pernah jauh. Bahkan ketika kamu tahu kita akan berjarak, kamu berusaha agar jarak kita selalu ‘dekat’. Dan kamu berhasil melakukannya. Semenjak saat itu kita tak pernah jauh.

Beberapa hari yang lalu, mungkin sekitar 150 hari yang lalu, kita terpisah. Kamu bilang semua akan baik-baik saja. Kamu bilang akan selalu ada setiap harinya. Aku tak percaya, tapi ucapanmu meyakinkanku. Aku tak rela, namun sorot matamu membuatku ikhlas melepasmu. Kamu pergi, untuk 60 hari dari 150 hari yang kita lalui semenjak hari ini.

Aku mempercayaimu, dan aku yakin kamu selalu menjaga kepercayaanku. Kamu melakukannya, tapi mungkin orang-orang di sekitarmu tak mendukungmu untuk melakukannya. Mungkin, dan itu yang selalu kutakutkan.

Malam itu, sebelum hari keberangkatanmu, kamu menemuiku. “Aku besok berangkat, mungkin pagi mungkin juga malam. Entahlah tergantung yang lainnya”.

“Pagi aja, jangan malam. Kan kalian belum tahu medannya”. Aku khawatir. Aku takut kamu kenapa-napa. Kamu tak pernah menjamah tempat pelosok seperti itu.

“Ya kuusahakan pagi”.

“Apa semua kebutuhan udah dibawa? Bekal makanan selama disana?Vitamin?Pakaian?Alat mandi?Alat sholat?Sandal, sepatu?”. Aku benar-benar khawatir. Bahkan aku menahan air mataku untuk jatuh. Aku tak mau membuatmu tak nyaman disana nantinya. Aku berusaha tegar dihadapanmu. Aku mau kamu sukses disana dan segera kembali dekat denganku.

Malam itu, kulepas dirimu. Aku tak kunjung masuk, aku ingin melihatmu. Bahkan aku menunggumu sampai bayangan tubuhmu tak terlihat lagi. Aku tak tegar lagi ketika kau tak ada.

Hari pertama

Semuanya masih baik-baik saja. Inbox hapeku juga masih rame dengan namamu. Telp dari mu juga masih sering menemaniku sebelum malam memelukku dan mimpi memberiku ruang untuk melihatmu.

Hari kedua…

Rindu mulai mengusik… tapi kamu bilang ini ujian. Ya ujian akan kita segera dekat.

Hari ketiga…

Frekuensi mulai menurun. Frekuensi apa? Yang mana? Semuanya kurasa.

Hari keempat…

Aku mulai sungkan. Aku takut mengganggumu. Tak pernah kukirimkan sms sebelum namamu muncul di layar hapeku. Tak pernah kupanggil nomormu sebelum ada aba-aba darimu.  Aku mulai merasa kehilanganmu. Tapi kutepis semuanya. Mungkin karena aku belum terbiasa… Atau mungkin ini kebiasaan yang baru.

Aku tak tahu lagi bagaimana kabar hari kelima, keenam dan seterusnya. Aku hanya menunggu.

Sampai di hari itu… Kamu terasa berbeda. Ada yang terjadi yang aku tak tahu. Tapi aku tak menggubrisnya, aku terlalu takut untuk bertemu dengan kenyataan. Aku terlalu kerdil untuk menerima kenyataan bahwa ‘rasamu’ telah ‘berbeda’. Mungkinkah ini karena jarak kita yang tak lagi ‘dekat’. Ataukah karena dia…aku tak tahu dia siapa. Sah-sah aja kan aku menyebut siapapun itu dengan kata ganti dia.

Setelah hari ke 60 kamu kembali. Jarak kita kembali dekat, tapi kita tak lagi benar-benar ‘dekat’. Aku sering mendengar kata-kata tentang dia. Tapi lagi-lagi aku rela menjadi pengecut yang tak berani menatap kebenaran. Aku ingin kamu tetap disini, bersamaku. Bukan bersamanya.

Dan di hari yang telah digariskan, tanpa kita tahu kemana arahnya, kita bertemu dengan dia. Di tempat ini, tempat yang begitu indah menampakkan keagungan Sang Pencipta. Tempat yang terasa sejuk meskipun matahari besinar terang. Awan-awan putih yang bergerak beriringan. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, mengikuti arah angin yang membawanya.

 Aku hanya melihatmu dari belakang ketika dia menyapamu. Aku tersenyum. Dia lah dia yang selama ini menjadi dia ketika kita tak lagi bersama. Mungkin dia bertanya kepadamu, dengan siapa kamu ke tempat ini. Akhirnya kamu memanggilku dan mengenalkanku. Kulihat raut wajah yang berbeda darinya ketika kamu menegnalkanku. Aku tersenyum. Dia juga, mungkin. Kita berlalu. Dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan kita. Awan terlihat sedikit mendung. Mendung. Disini juga mendung,  di hatiku. Hatinya, mungkin.

Lirih kudengar perkatanmu. “Kenapa harus bertemu disini”.

8 thoughts on “ketika kita bertemu dia

Silahkan komentarnya ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s