Salahkah semua rasaku?

Dulu, aku tak pernah meminta takdir kita dipertemukan. Tapi aku bisa apa jika goresan takdir telah tertulis. Aku bertemu denganmu, berkenalan denganmu dan mengetahui semua tentangmu. Aku sudah memasang alarm pada hatiku agar selalu terbangun setiap terlena dengan kebaikanmu, perhatianmu dan kasih sayangmu. Tapi aku bisa apa, aku tak kuasa menahan rasa yang sedikit demi sedikit mencuat. Aku tak kuasa menahan rasa yang terus tumbuh karena siraman kasih sayangmu. Aku tak kuasa memangkas rasa yang semakin bercabang karena perhatianmu, dimana setiap cabangnya selalu tumbuh tunas – tunas cinta padamu.

Mungkin alarm hatiku telah rusak  atau aku sendiri yang sengaja merusaknya. Aku sengaja merusaknya agar aku dapat selalu merasakan kasih sayangmu tanpa harus ingat akan siapa dirimu dan siapa diriku. Kehadiranmu memberikan efek yang sungguh mengagumkan. Aku begitu bersemangat menjawab ketika kamu bertanya tentang hari-hariku. Apapun yang kurasakan di setiap harinya semua akan menjadi menyenangkan dan semua itu karenamu. Sungguh aku bahagia karena telah mengenalmu, aku damai ketika bersamamu.

Semakin hari aku semakin yakin cinta yang kurasakan layak untuk diperjuangkan. Aku yakin cinta yang telah lama tak hadir dalam hidupku adalah cinta sejatiku. Aku yakin karena kaulah orangnya. Dirimu, dengan tutur katamu yang lembut berhasil membuka segel pertahanan hatiku. Dirimu, dengan semua kasih sayangmu berhasilkan melunturkan rapalan mantra-mantra yang selalu kuberikan pada otakku, jangan mudah menaruh hati karena mereka mungkin hanya bermain. Dirimu berhasil membawa duniaku bersamamu.

Dirimu, begitu sempurna dimataku. Aku semakin merasa dekat denganmu, dan dirimu tak mengingkari hal itu. Akun sosialku tak pernah sepi dari namamu. Inbox hapeku penuh dengan sms darimu. Aku tak pernah berpikiran bahwa semua itu hanya semu belaka. Mungkin aku bodoh, aku terlalu lugu untuk menganggapmu spesial karena berbeda dengan yang lainnya. Aku bodoh, ya aku akui. Tapi cintaku tidak. Aku bodoh karena memberikan sepenuh cintaku padamu. Aku bodoh karena tak menyadari dari dulu jika dirimu menempatkanku dengan label teman di hatimu, bukan cinta. Bukan. Aku salah.

Aku tak pernah menyesal mengenalmu. Aku hanya menyesalkan kebodohanku yang membuatku terlambat mengetahui semuanya. Aku terlambat mengetahui satu per satu tunas cintaku layu karena dirimu tak lagi memberikan cinta dan kasih sayangmu padaku. Tapi aku, aku tetap mempertahankannya. Kupikir, sedikit demi sedikit hilangnya dirimu dari hidupku hanyalah efek dari kesibukan kita yang berbeda. Tapi sekali lagi aku salah. Aku bodoh. Cinta tak mengenal perbedaan. Seharusnya perbedaan tak membuat kita jauh.

 Sekarang, pohon cintaku telah mati. Tak ada lagi cinta, kasih sayang dan perhatian lagi darimu yang dulu membuat cintaku tumbuh dan terus tumbuh. Dirimu telah mempunyai bibit cinta yang baru dan menanamnya bersama kekasihmu. Ya kekasih, wanita yang kau simpan dalam hatimu dengan label cinta. Bukan label teman sepertiku. Dirimu menghabiskan seluruh waktumu bersamanya. Tak pernah lagi kudengar kabar tentangmu. Tak pernah lagi namamu hadir di inbox hapeku. Lenyap.

Hilang. Tapi kenapa rasa ini tak turut hilang bersamamu. Kenapa rasa ini masih ada. Setiap hari rasa ini menggerogoti relung rinduku yang bahkan aku sendiri tak tahu harus kubuang kemana rasa rinduku. Tahukah kamu, semua kenangan yang kita rangkai, senyummu, tawamu, candamu, setiap hari menyayat hatiku perlahan. Mataku pun seakan tak lelah menangisi kepergianmu.

Salahkah jika aku masih mengharapkan dirimu kembali? Salahkah jika kusimpan cintaku hanya untukmu? Salahkah jika aku masih selalu merindukanmu? Salahkah aku jika berharap kau beri tempat dengan label cinta di hatimu? Salahkah semua itu?

Jika semua yang kurasakan salah, mungkinkah kebenaran akan membuatku lupa akan dirimu? Lupa akan semua rasaku padamu?

Rinduku, ajarkan padaku tentang kebenaran itu

agar aku melupakan semua rasaku padamu

Silahkan komentarnya ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s