kita ‘bahagia’ lalu kita ‘tertawa’

Semua pasti pernah merasakan kebahagian. Semua orang punya definisi masing-masing tentang kebahagiaan. Terkadang definisi itu sendiri akan berubah – ubah sesuai dengan keadaan yang sedang kita alami.
Begitupun aku, aku punya definisi sendiri mengenai kebahagiaanku. Bahagia menurutku adalah ketika hati kita merasakan ‘senang’ kemudian dengan ‘senang’ tersebut kita bisa tertawa . Sederhana. Bahagia itu sederhana.

Kebahagiaan yang kita alami, tak luput dari keberadaan orang-orang terkasih di sekeliling kita. Keluarga -Bapak, Ibu, Adek-, Sahabat, Teman, dan ‘kamu’.

Ya, ‘kamu’. Siapapun pasti tahu siapakah sosok ‘kamu’ yang aku tulis. Karena hari ini aku sedang ingin menulis sejumput cerita (dari sekian banyak cerita ) tentang kebahagiaan yang aku lalui dengan ‘kamu’.

beberapa hari yang lalu…

Sebelumnya aku pengen ketawa dulu…hahahaha😉 …mungkin bagi sebagian orang (atau bahkan semua orang, kecuali aku tentunya) cerita ini nggak penting, tapi menurutku dari sinilah aku bisa tahu bahwa untuk bahagia itu nggak mesti dengan hal yang serba ‘WAH’.

Waktu itu, ehmmm lebih tepatnya malam itu aku dan ‘kamu’ jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di kota. Di depan aku dan ‘kamu’ berjalan satu rombongan keluarga yang terdiri dari seorang ibu yang menggendong bayi, seorang bapak yang membawa beberapa kantong belanjaan dan seorang anak kecil perempuan mungkin usianya berkisar 3-4 tahun.
Cara berjalan anak kecil tadi menyita perhatianku. Aku mengamati cara jalannya dari lantai tiga sampai lantai dasar. Lantai di tempat ini terdiri dari beberapa baris keramik berwarna putih dengan ukuran sedang dan diantara barisan keramik putih tadi diselipi barisan keramik berwarna hitam dengan ukuran agak besar. Setiap sampai di depan barisan keramik warna hitam si anak kecil tadi pasti berhenti, seperti mempersiapkan sesuatu kemudian melangkah lagi dengan langkah yang lebih lebar. Anak kecil tadi ketika berjalan di barisan keramik warna putih tadi pasti bisa melewati, akan tetapi kalau sampai ke keramik yang berwarna hitam pasti dia gagal melewati keseluruhan bagian keramik, karena ukurannya yang besar sedangkan langkah kakinya masih terlalu sempit.

Aku menyadarinya. Seketika aku tersenyum (sedikit tertawa sih :D).

Kemudian ‘kamu’ mulai bertanya, “ngetawain apa sih???”

“liatin deh anak kecil itu, setiap dia mau melewati keramik warna hitam dia pasti berhenti dan mempersiapkan langkahnya yang lebih lebar, tapi dia masih belum berhasil dari tadi…hehehhe…lucu ya”.

“lho iya”.

Dan entah apa yang terjadi dengan langkah kita, tanpa ada aba-aba sebelumnya. Aku dan ‘kamu’ tiba-tiba melakukannya, bersamaan…

“Happp”…. kita meniru anak kecil tadi. Mencoba melangkahkan kaki kita untuk melewati keramik hitam. Aku tak sadar kakimu melangkah seperiti itu juga. ‘kamu’ pun begitu. Kita berhasil. Aku menatap ke arahmu….dan kita tertawa.

Terima kasih adek kecil😉

Silahkan komentarnya ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s