sesuatu itu sering disebut dilep :|

istilah ‘dilep‘ pasti sudah tak asing lagi bagi para wanita. karena setiap datang bulan, kebanyakan wanita pasti mengalami ‘dilep‘.

karena penasaran dengan si ‘dilep‘ ini, aku pun mengubek-ubek google dan akhirnya mendapatkan ini :

*apa sih sebenarnya ‘dilep’ itu ???

ternyata dilep itu istilah medisnya adalah dismenore. dismenore alias dilep merupakan nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama masa menstruasi. dilep atau dismenore ini disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasari, sedangkan disebut dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.

* bagaimana mekanisme terjadinya menstruasi?

Mekanisme produksi ovum diatur oleh hormon yang dihasilkan oleh bagian otak yang disebut hipofisis/pituitary. pada saat tertentu hipofisis menghasilkan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) atau hormon yang merangsang pembentukan folikel. Pembentukan folikel terjadi di dalam ovarium (indung telur), umumnya yang aktif adalah ovarium sebelah kiri. Di dalam folikel inilah terdapat calon ovum.

Folikel yang sedang tumbuh tersebut menghasilkan hormon estrogen yang berfungsi merangsang pertumbuhan endometrium (penebalan dinding rahim). Sejalan dengan perkembangan folikel, maka estrogen yang dihasilkan akan semakin banyak, sehingga pada kadar tertentu akan merangsang hipofisis untuk menghasilkan hormon LH (Luteinizing Hormone) yang menyebabkan folikel pecah sehingga ovum keluar dan masuk ke dalam tuba fallopi/oviduct (saluran telur). Peristiwa inilah yang disebut ovulasi. Umumnya ovulasi terjadi sekitar hari ke-14 dihitung sejak awal terjadinya menstruasi . Saat inilah yang disebut dengan masa subur wanita.

Folikel yang telah pecah tersebut akah berubah menjadi berwarna kekuningan dan disebut korpus luteum. Badan kuning ini selanjutnya mengeluarkan hormon progesteron yang berfungsi untuk mempercepat dan mempertahankan pertumbuhan endometrium. Untuk diketahui bahwa pada endometrium (penebalan dinding rahim) inilah kelak zigot (calon bayi) akan tumbuh dan memperoleh makanan dari ibunya melalui plasenta (ari-ari/tembuni). Endometrium dibentuk dari jalinan kapiler darah dan jaringan lain yang hangat dan lembut.

Trus kemana nasib si ovum tadi? Ada dua kemungkinan nasibnya. Pertama, bila ovum yang telah keluar tadi dibuahi sehingga terbentuk zigot, kemudian melakukan penempelan (nidasi/transplantasi) pada endometrium dan selanjutnya berkembang menjadi embrio, akhirnya menjadi janin. Selama masa perkembangan tersebut janin membentuk plasenta yang dia gunakan untuk mengambil makanan dan oksigen dari ibunya. Nah, hebatnya plasenta ini bisa menghasilkan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropic) yang berfungsi mempertahankan penebalan endometrium yang digunakan janin sebagai media pertumbuhannya sendiri. Jadi HCG berfungsi menggantikan peran hormon progesteron, karena hormon ini tidak bisa diproduksi terus oleh korpus luteum di atas.

Kedua, jika tidak dibuahi, ovum akan mati dalam waktu sekitar 24 jam. Sementara itu karena progesteron tidak dapat terus diproduksi, akibatnya kadarnya terus turun. Ini berakibat endometrium tidak bisa dipertahankan, dan akhirnya mengelupas dari dinding rahim sehingga mengeluarkan darah. Jaringan endometrium akan meluruh bersama darah yang dikeluarkan melalui vagina. Inilah proses yang disebut menstruasi.

Beberapa hari menjelang menstruasi, hampir semua wanita tahu kalau sang tamu mau datang karena hafal tandanya: badan sakit semua, mudah capek, payudara terasa lebih kencang dan sakit, perut bagian bawah sakit (dilep), gampang emosi, mudah tersinggung, pokoknya tanda-tanda semacam itulah! Nah, itulah yang disebut pre menstrual syndrome (PMS).

Gejala PMS dapat diprediksi. Acapkali terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi. Hal ini dapat hilang begitu dimulainya pendarahan, namun dapat pula berlanjut setelahnya. Sebagian kecil dari kalangan wanita antara usia 20 hingga 35 tahun dapat  mengalami sindrom ini dengan sangat hebat pengaruhnya. Terkadang mengharuskan mereka beristirahat dari kesibukan rutinitias hariannya.

Penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Teori lain bilang, karena hormon estrogen yang berlebihan. Para peneliti melaporkan, salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita.

Nah itu tadi ulasan mengenai ‘dilep’. semoga bermanfaat :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s